Tari Tor Tor Di Klaim Malaysia, Suku Mandailing Malaysia Terima Kasih
Rabu , 20 Juni 2012 - 09:22 WIB - Dibaca 336 kali

Tari Tor Tor Asal Sumatera Utara
GLOBALTANGSEL – Isu tentang pendaftaran seni budaya tari tor-tor kedalam warisan budaya di Malaysia semakin hangat. Seperti kebakaran jenggot, Gubernur Sumatera Utara segera mendata warisan budaya yang ada di wilayahnya untuk segera di daftarkan. Begitupula Komisi X DPR rencananya akan memanggil Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan, Wiendu Nuryanti untuk didengarkan pendapatnya hari ini Rabu, 20 Juni 2012 pukul 14.00.
"Kami mau meminta penjelasan dan langkah apa yang akan ditempuh oleh pemerintah tentang masalah ini. Bukan kali pertama Malaysia mengklaim budaya Indonesia, sebagai budayanya," tegas Reni politisi PPP tersebut.
Namun bagi Persatuan Suku Mandailing di Malaysia, mereka berterima kasih kepada Menteri Informasi, Komunikasi, dan Kebudayaan, Datuk Seri Rais Yatim, yang tetap akan mendaftarkan tari Tor-tor dan Gordang Sambilan ke dalam warisan budaya Malaysia.
"Kami sangat terharu dengan ketegasan YB Menteri itu dalam mempertahankan perjuangan masyarakat Mandailing di Malaysia itu," kata Presiden Persatuan Halak Mandailing Malaysia, Ramli Abdul Karim Hasibuan.
Pendaftaran Tari Tor-tor dan Gordang Sambilan ke dalam akta warisan budaya nasional Malaysia merupakan tindak lanjut dari permintaan masyarakat Mandailing yang tinggal di negeri jiran itu. Alasannya Masyarakat Mandailing Malaysia ingin Tor-tor dan Gordang Sambilan setara dengan kebudayaan lain seperti Jawa, Minang, Bugis, China, India, dan lain-lain. Suku Mandailing di Malaysia ingin kedua kesenian itu bisa ditonton oleh rakyat Malaysia dalam acara besar atau program resmi kerajaan.
Diperkirakan 500 ribu warga Mandailing tinggal di Malaysia. Berdasarkan sejarah Suku Mandailing sudah hidup di Malaysia sejak 200 tahun yang lalu. Masyarakat Mandailing di Malaysia telah memperjuangkan kedua kesenian sejak 30 tahun yang lalu.
"Dan kami akan terus memperjuangkan supaya kebudayaan kami ini terus dikembangkan dan diangkat ke tahap yang lebih tinggi setahap dan setara dengan budaya suku kaum lain," katanya.
Perjuangan masyarakat Mandailing untuk mendaftarkan Tari Tor-tor dan Gordang Sambilan sebagai warisan budaya Malaysia semata-mata untuk melestarikan kedua kebudayaan. (isn)
"Kami mau meminta penjelasan dan langkah apa yang akan ditempuh oleh pemerintah tentang masalah ini. Bukan kali pertama Malaysia mengklaim budaya Indonesia, sebagai budayanya," tegas Reni politisi PPP tersebut.
Namun bagi Persatuan Suku Mandailing di Malaysia, mereka berterima kasih kepada Menteri Informasi, Komunikasi, dan Kebudayaan, Datuk Seri Rais Yatim, yang tetap akan mendaftarkan tari Tor-tor dan Gordang Sambilan ke dalam warisan budaya Malaysia.
"Kami sangat terharu dengan ketegasan YB Menteri itu dalam mempertahankan perjuangan masyarakat Mandailing di Malaysia itu," kata Presiden Persatuan Halak Mandailing Malaysia, Ramli Abdul Karim Hasibuan.
Pendaftaran Tari Tor-tor dan Gordang Sambilan ke dalam akta warisan budaya nasional Malaysia merupakan tindak lanjut dari permintaan masyarakat Mandailing yang tinggal di negeri jiran itu. Alasannya Masyarakat Mandailing Malaysia ingin Tor-tor dan Gordang Sambilan setara dengan kebudayaan lain seperti Jawa, Minang, Bugis, China, India, dan lain-lain. Suku Mandailing di Malaysia ingin kedua kesenian itu bisa ditonton oleh rakyat Malaysia dalam acara besar atau program resmi kerajaan.
Diperkirakan 500 ribu warga Mandailing tinggal di Malaysia. Berdasarkan sejarah Suku Mandailing sudah hidup di Malaysia sejak 200 tahun yang lalu. Masyarakat Mandailing di Malaysia telah memperjuangkan kedua kesenian sejak 30 tahun yang lalu.
"Dan kami akan terus memperjuangkan supaya kebudayaan kami ini terus dikembangkan dan diangkat ke tahap yang lebih tinggi setahap dan setara dengan budaya suku kaum lain," katanya.
Perjuangan masyarakat Mandailing untuk mendaftarkan Tari Tor-tor dan Gordang Sambilan sebagai warisan budaya Malaysia semata-mata untuk melestarikan kedua kebudayaan. (isn)
Baca Juga
Komentar
Berita Terkini
“
KENALILAH CINTA YANG SEMESTINYA Boleh saja mencintai sesuatu yang menjadi bagian dari kehidupan dunia, entah itu istri, anak, teman ataupun harta benda dan perbendaharaan dunia lainnya. Tapi jangan sampai kecintaan itu membutakan hati dari mengenal Allah.. ingatlah, gejala Awal dari lalai adalah: cinta. Setelah cinta yang melalaikan itu semakin tak terkendali, dan meningkat menjadi dosa kecil, tanpa kita sadari kita beranjak ke dosa besar. Dan apabila cinta sudah berbuah dosa besar, terasa sulit untuk menghilangkannya dari dalam jiwa.. Apabila cinta sudah berbuah menjadi dosa besar, maka engkau sadar bahwa engkau sudah melakukan kesalahan besar, tapi engkau seakan tiada mampu untuk meninggalkannya.. terlebih, apabila manisnya dosa sudah menjadi kebutuhan, sehari saja kau tak bersamanya, membuat hatimu ingin mencarinya.. Ingatlah apabila engkau ingin sembuh darinya, maka berusahalah engkau untuk mengembalikan cinta pada yang semestinya, yaitu: cinta kepada Allah Ta'ala, yang dengan itu engkau akan rela untuk meninggalkan dunia dan seisinya untuk mendapatkan cinta-Nya. Sehingga dengan itu engkau akan disibukkan bersama-Nya dan sedikit demi sedikit engkau akan merasakan cinta-Nya, dan sedikit demi sedikit pula engkau akan melupakan cinta dunia yang binasa. (dbs) ”
Ustad. Samson Rahman, Lc, MA

Informasi Pemasangan Iklan
Untuk pemasangan iklan hubungi 085219602006 atau iklan[at]globaltangsel.com 


