Pasukan Khusus Iran Bantu Bashar Assad Tumpas Oposisi
Jumat , 22 Juni 2012 - 11:27 WIB - Dibaca 1491 kali

Pasukan Quds Iran Bantu Rezim Suriah
GLOBAL TANGSEL -- Meningkatnya kekerasan dan perlawanan dari para oposisi di Suriah menjadikan Iran sebagai negara syiah membantu Bashar Assad yang berhaluan sama. Suriah walaupun jumlah penduduknya diperkirakan 80% beragama Islam Sunni namun diperintah oleh pejabat-pejabat yang beraliran Syiah.
Diperkirakan korban jatuh dari warga sipil sudah belasan ribu oleh Rezim Bashar Assad. Mereka secara represif melakukan tindakan kekerasan bukan hanya kepada orang dewasa. Ana-anak kecil tanpa dosa sudah banyak yang disiksa dan dipenjarakan oleh Rezim Bashar. Bahkan di video dan foto-foto yang disebar di Youtube terlihat mengubur hidup-hidup warga yang dinilai membangkang.
Namun fakta-fakta tersebut tak membuat Iran bergeming. Suriah juga mendapat dukungan dari Hizbullah yang berada di Libanon. Iran dan Suriah merupakan pendukung militer, keuangan dan politik terbesar bagi Hizbullah, dan Suriah menjadi jembatan bagai Iran dan Libanon. Jika rezim Assad jatuh maka Iran tidak hanya akan kehilangan sekutu terdekatnya, namun, juga akan kehilangan jalur geografis ke Hizbullah.
Iran diketahui telah melatih pasukan Suriah sebelum terjadinya pemberontakan. Quds atau yang artinya Yerusalem dalam bahasa Farsi, adalah pasukan khusus bersenjata Iran. Sebagai kekuatan eksternal dari Garda Revolusioner Quds mendukung dan menfasilitasi gerakan Islam Syiah di negara lain atas nama Teheran, pergerakan yang diduga masuk organisasi teroris dunia.
"Quds mahir mengkoordinasikan misi sabotase di luar Iran," ujar Dilshod Achilov, seorang profesor dari politik Timur Tengah di Universitas Negri East Tennessee. Dan dalam hal Suriah, dirinya mengatakan,"kita tidak berbicara mengenai segelintir pasukan tapi unit-unit pasukan yang amat terlatih, yang mengetahui wilayah dan medan pertempuran dan bekerja erat bersama dengan rezim Suriah."
Qa'ani mengklaim, Quds sesungguhnya memiliki efek positif dalam situasi di Suriah. Ujarnya kepada Kantor Berita Pelajar Iran bahwa "Jika Republik Islamiah ini tidak hadir di Suriah, pembunuhan masal orang-orang akan terjadi dalam skala yang lebih besar," tutur Qa’ani salah Panglima Pasukan Quds.
Namun kenyataannya, sebaliknya. Jika Qa'ani berpikir bahwa Iran menjaga apa yang disebut oleh Assad "teroris bersenjata" di pelabuhan, kenyataannya Pasukan Quds membantu rezim Suriah menyerang pihak oposisi dan warga Suriah.
"Selama rezim Iran membantu Assad berkuasa, warga Suriah berada dalam resiko," ujar Mark Jacobson, seorang Senior Transatlantic Fellow di German Marshal Fund. Tingkat keterlibatan Iran di Suriah masih tidak jelas. Sejauh ini, wawancara dari Qa'ani dianggap paling mendekati sebuah wujud konfirmasi resmi akan adanya kehadiran pasukan Quds di Suriah.
"Campur tangan Iran dalam urusan Suriah termasuk melatih milisi dalam merespon aksi demonstrasi, begitu juga memberikan teknik dan perangkatnya, termasuk perangkat pengganggu, kamera pengawas, dan transfer pengiriman senjata skala besar termasuk senapan serbu dan senjata mesin, peledak dan perangkat peledak juga roket dan tank-tank," ujar seorang juru bicara Dewan Bangsa Suriah, kelompok payung pihak oposisi.
"Iran juga berpartisipasi dalam operasi keamanan untuk memburu para penentang rezim (Suriah)," tambahnya.
Pertempuran Zabadani
Sementara itu Victoria Nuland, jurubicara Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa milisi Shabiha yang diyakini pelaku pembunuhan masal di Houla, telah dibentuk mengikuti Basij, pasukan paramiliter Iran, yang menguatkan dugaan adanya pelatihan militer Iran terhadap pasukan sipil Suriah.
Dua hari kemudian, juru bicara Pentagon Kapten Angkatan Laut AS, John Kirby mengatakan kepada para wartawan bahwa dirinya memiliki "alasan untuk percaya bahwa Iran terus membantu rezim Assad dalam tindak kekejaman melawan warga Suriah," dan pada hari yang sama, Hillary Clinton, Menlu AS yang sedang berada di Kopenhagen mengatakan bahwa Quds "melatih pasukan militer Suriah...membantu mereka mendirikan pasukan milisi sekterian ini."
Menurut beberapa catatan, pasukan Quds telah berada di Suriah sejak Januari, saat pasukan Assad bentrok dengan para pemberontak dalam pertempuran di Zabadani. Pada saat itu, Pasukan Pembebas Suriah, pemberontak bersenjata utama di Suriah sudah mengendalikan kota Zabadani dan tampaknya memiliki pertahanan yang baik untuk mempertahankan dirinya dari pasukan pemerintah. Assad yang menyadari benar betapa pentingnya kota Zabadani secara strategis baik bagi Suriah dan Iran oleh karena kedekatan lokasinya dengan Libanon, sekitar 16 km dari perbatasan, para Jenderal Assad memanggil masuk pasukan Quds, begitu pula para sekutu Iran lainnya, kelompok Hizbullah dari Libanon.
Alasan mereka, "Badan intel Suriah tidak memenuhi kualifikasi; mereka tidak memiliki penembak jitu maupun perlengkapan yang memadai," ujar Mahmoud Haj Hamad, mantan Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan Suriah, yang membelot ke Barat pada January lalu seperti yang dikutip dari media Times. "Mereka membutuhkan para penembak jitu yang berkualifikasi dari Hizbullah dan Iran," ujarnya.
Setelah pertempuran, pemimpin Quds Jenderal Qassem Suleimani bergabung dengan aparat pemerintah militer Suriah, berdasarkan keterangan Steven K. O'Hern, mantan kepala Angkatan Udara AS urusan Investigasi Khusus, yang menulis blog Intelligence Wars. Suleimani dilaporkan secara rutin mengunjungi war room-nya Assad di Damascus. (isn)
Diperkirakan korban jatuh dari warga sipil sudah belasan ribu oleh Rezim Bashar Assad. Mereka secara represif melakukan tindakan kekerasan bukan hanya kepada orang dewasa. Ana-anak kecil tanpa dosa sudah banyak yang disiksa dan dipenjarakan oleh Rezim Bashar. Bahkan di video dan foto-foto yang disebar di Youtube terlihat mengubur hidup-hidup warga yang dinilai membangkang.
Namun fakta-fakta tersebut tak membuat Iran bergeming. Suriah juga mendapat dukungan dari Hizbullah yang berada di Libanon. Iran dan Suriah merupakan pendukung militer, keuangan dan politik terbesar bagi Hizbullah, dan Suriah menjadi jembatan bagai Iran dan Libanon. Jika rezim Assad jatuh maka Iran tidak hanya akan kehilangan sekutu terdekatnya, namun, juga akan kehilangan jalur geografis ke Hizbullah.
Iran diketahui telah melatih pasukan Suriah sebelum terjadinya pemberontakan. Quds atau yang artinya Yerusalem dalam bahasa Farsi, adalah pasukan khusus bersenjata Iran. Sebagai kekuatan eksternal dari Garda Revolusioner Quds mendukung dan menfasilitasi gerakan Islam Syiah di negara lain atas nama Teheran, pergerakan yang diduga masuk organisasi teroris dunia.
"Quds mahir mengkoordinasikan misi sabotase di luar Iran," ujar Dilshod Achilov, seorang profesor dari politik Timur Tengah di Universitas Negri East Tennessee. Dan dalam hal Suriah, dirinya mengatakan,"kita tidak berbicara mengenai segelintir pasukan tapi unit-unit pasukan yang amat terlatih, yang mengetahui wilayah dan medan pertempuran dan bekerja erat bersama dengan rezim Suriah."
Qa'ani mengklaim, Quds sesungguhnya memiliki efek positif dalam situasi di Suriah. Ujarnya kepada Kantor Berita Pelajar Iran bahwa "Jika Republik Islamiah ini tidak hadir di Suriah, pembunuhan masal orang-orang akan terjadi dalam skala yang lebih besar," tutur Qa’ani salah Panglima Pasukan Quds.
Namun kenyataannya, sebaliknya. Jika Qa'ani berpikir bahwa Iran menjaga apa yang disebut oleh Assad "teroris bersenjata" di pelabuhan, kenyataannya Pasukan Quds membantu rezim Suriah menyerang pihak oposisi dan warga Suriah.
"Selama rezim Iran membantu Assad berkuasa, warga Suriah berada dalam resiko," ujar Mark Jacobson, seorang Senior Transatlantic Fellow di German Marshal Fund. Tingkat keterlibatan Iran di Suriah masih tidak jelas. Sejauh ini, wawancara dari Qa'ani dianggap paling mendekati sebuah wujud konfirmasi resmi akan adanya kehadiran pasukan Quds di Suriah.
"Campur tangan Iran dalam urusan Suriah termasuk melatih milisi dalam merespon aksi demonstrasi, begitu juga memberikan teknik dan perangkatnya, termasuk perangkat pengganggu, kamera pengawas, dan transfer pengiriman senjata skala besar termasuk senapan serbu dan senjata mesin, peledak dan perangkat peledak juga roket dan tank-tank," ujar seorang juru bicara Dewan Bangsa Suriah, kelompok payung pihak oposisi.
"Iran juga berpartisipasi dalam operasi keamanan untuk memburu para penentang rezim (Suriah)," tambahnya.
Pertempuran Zabadani
Sementara itu Victoria Nuland, jurubicara Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa milisi Shabiha yang diyakini pelaku pembunuhan masal di Houla, telah dibentuk mengikuti Basij, pasukan paramiliter Iran, yang menguatkan dugaan adanya pelatihan militer Iran terhadap pasukan sipil Suriah.
Dua hari kemudian, juru bicara Pentagon Kapten Angkatan Laut AS, John Kirby mengatakan kepada para wartawan bahwa dirinya memiliki "alasan untuk percaya bahwa Iran terus membantu rezim Assad dalam tindak kekejaman melawan warga Suriah," dan pada hari yang sama, Hillary Clinton, Menlu AS yang sedang berada di Kopenhagen mengatakan bahwa Quds "melatih pasukan militer Suriah...membantu mereka mendirikan pasukan milisi sekterian ini."
Menurut beberapa catatan, pasukan Quds telah berada di Suriah sejak Januari, saat pasukan Assad bentrok dengan para pemberontak dalam pertempuran di Zabadani. Pada saat itu, Pasukan Pembebas Suriah, pemberontak bersenjata utama di Suriah sudah mengendalikan kota Zabadani dan tampaknya memiliki pertahanan yang baik untuk mempertahankan dirinya dari pasukan pemerintah. Assad yang menyadari benar betapa pentingnya kota Zabadani secara strategis baik bagi Suriah dan Iran oleh karena kedekatan lokasinya dengan Libanon, sekitar 16 km dari perbatasan, para Jenderal Assad memanggil masuk pasukan Quds, begitu pula para sekutu Iran lainnya, kelompok Hizbullah dari Libanon.
Alasan mereka, "Badan intel Suriah tidak memenuhi kualifikasi; mereka tidak memiliki penembak jitu maupun perlengkapan yang memadai," ujar Mahmoud Haj Hamad, mantan Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan Suriah, yang membelot ke Barat pada January lalu seperti yang dikutip dari media Times. "Mereka membutuhkan para penembak jitu yang berkualifikasi dari Hizbullah dan Iran," ujarnya.
Setelah pertempuran, pemimpin Quds Jenderal Qassem Suleimani bergabung dengan aparat pemerintah militer Suriah, berdasarkan keterangan Steven K. O'Hern, mantan kepala Angkatan Udara AS urusan Investigasi Khusus, yang menulis blog Intelligence Wars. Suleimani dilaporkan secara rutin mengunjungi war room-nya Assad di Damascus. (isn)
Baca Juga
Komentar
Berita Terkini
“
KENALILAH CINTA YANG SEMESTINYA Boleh saja mencintai sesuatu yang menjadi bagian dari kehidupan dunia, entah itu istri, anak, teman ataupun harta benda dan perbendaharaan dunia lainnya. Tapi jangan sampai kecintaan itu membutakan hati dari mengenal Allah.. ingatlah, gejala Awal dari lalai adalah: cinta. Setelah cinta yang melalaikan itu semakin tak terkendali, dan meningkat menjadi dosa kecil, tanpa kita sadari kita beranjak ke dosa besar. Dan apabila cinta sudah berbuah dosa besar, terasa sulit untuk menghilangkannya dari dalam jiwa.. Apabila cinta sudah berbuah menjadi dosa besar, maka engkau sadar bahwa engkau sudah melakukan kesalahan besar, tapi engkau seakan tiada mampu untuk meninggalkannya.. terlebih, apabila manisnya dosa sudah menjadi kebutuhan, sehari saja kau tak bersamanya, membuat hatimu ingin mencarinya.. Ingatlah apabila engkau ingin sembuh darinya, maka berusahalah engkau untuk mengembalikan cinta pada yang semestinya, yaitu: cinta kepada Allah Ta'ala, yang dengan itu engkau akan rela untuk meninggalkan dunia dan seisinya untuk mendapatkan cinta-Nya. Sehingga dengan itu engkau akan disibukkan bersama-Nya dan sedikit demi sedikit engkau akan merasakan cinta-Nya, dan sedikit demi sedikit pula engkau akan melupakan cinta dunia yang binasa. (dbs) ”
Ustad. Samson Rahman, Lc, MA

Informasi Pemasangan Iklan
Untuk pemasangan iklan hubungi 085219602006 atau iklan[at]globaltangsel.com 


